Masuk

Ingat Saya

Melihat Toleransi yang Hakiki di Tepian Teluk Buyat

Melihat Toleransi yang Hakiki di Tepian Teluk Buyat

Teluk Buyat berada di Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Diperlukan waktu 4-5 jam perjalanan darat dari Kota Manado untuk bisa sampai ke desa Ratatotok Timur yang tepat menghadap Teluk Buyat.

Nama Teluk Buyat berangkali lebih dulu terkenal melalui isu pencemaran lingkungan yang sempat mencuat lebih dari satu dekade silam. Seiring lenyapnya isu tersebut dan terbukti tidak ada pencemaran mematikan di Teluk Buyat, namanya pun seolah terlupakan. Padahal, di Teluk Buyat ada sebuah sketsa kehidupan yang agung tentang toleransi.

Hanya sekitar 200 meter dari tepi Pantai Lakban, Teluk Buyat, terdapat sebuah masjid dan gereja atas sepetak tanah yang sama. Masjid An-Namira dan Gereja Masehi Injili berdiri hampir berdempetan. Tak ada tembok pemisah yang membatasi kedua rumah ibadah tersebut. Sebaliknya, masjid dan gereja itu dikelilingi oleh satu pagar sederhana. Teras depan keduanya juga hampir saling berhadapan. Bahkan, salah satu pengeras suara masjid An-Namira mengarah ke depan gereja Masehi Injili.

Meskipun demikian, tak pernah ada perselisihan antara umat Islam dan umat Kristen di tempat tersebut. Masyarakat Ratatotok Timur senantiasa menjaga kerukunan yang telah terbangun dengan indah, seindah Teluk Buyat di kampung mereka.

Keberadaan Masjid An-Namira dan Gereja Masehi Injili memang menegaskan tingginya toleransi beragama di Teluk Buyat. Salamun dan Abidin, dua pemuka agama Islam yang saya temui seusai sholat Jumat di Masjid An-Namira waktu itu, mengemukakan bahwa umat Islam dan Kristen di Ratatotok Timur sejak dulu sudah saling menghormati satu sama lain. Masjid dan gereja yang berdampingan dan berbagi halaman tak pernah dipersoalkan oleh masyarakat. Masyarakat justru sudah sangat paham apa yang harus dilakukan untuk saling menghargai tanpa meniadakan hak serta kewajiban beribadah satu sama lain. Misalnya jika di hari yang sama ada kegiatan ibadah di masjid dan gereja dalam waktu yang hampir bersamaan, masjid akan mengecilkan volume pengeras suara dan sebaliknya ibadah di gereja akan selesai sebelum waktu sholat. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran.

Demikian pula saat hari raya Idul Adha dan Idul Fitri, masyarakat yang beragam Kristen juga mendatangi umat islam dan berkumpul di halaman masjid An-Namira untuk bersilaturahmi. Sebaliknya saat hari raya Natal atau Paskah, umat kristen yang datang ke gereja Masehi Injili leluasa menggunakan halaman hingga ke depan masjid.

Masjid An-Namira dan Gereja Masehi Injili berdiri berdampingan di tepian Teluk Buyat.

Masjid An-Namira dan Gereja Masehi Injili berdiri berdampingan di tepian Teluk Buyat.

Selain perbedaan agama mayoritas, masyarakat Ratatotok timur juga berasal dari berbagai suku, seperti Gorontalo, Minahasa, Bugis, Bolaang Mongondow, dan Jawa. Meskipun demikian, tali persaudaraan di antara mereka cukup kuat.

Masjid An-Namira dan Gereja Masehi Injili di tepi Pantai Lakban, Teluk Buyat adalah sesuatu yang mengagumkan. Semangat toleransi yang terpancar dari keduanya pantas diteladani untuk merawat keberagamanan.

Di saat sebagian orang di negeri ini menjadikan agama sebagai alat untuk melukai sesama, masyarakat di Teluk Buyat justru tak lelah memupuk toleransi. Ketika banyak di antara kita hanya berteori dan membawa nama Tuhan untuk saling menyalahkan, masyarakat di Teluk Buyat justru merangkai perbedaan untuk memperkuat pesatuan.

Teluk Buyat dan kehidupan masyarakatnya yang sederhana telah mengajarkan hal besar yang saat ini mulai kita anggap remeh.

teks dan foto: Hendra Wardhana.

hendrawardhana
Pengagum budaya Indonesia dan penikmat keindahan Nusantara